LUMAJANG : Mengupas sejarah ke walian Syeh Abu Bakar “Bah Wates” atau Sarmidin Sanduk yang terletak di Desa Kaliboto Lor, Kecamatan Jatiroto, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
Syeh Abubakar “Bah Wates” berasal dari negara Mesir, hijriah ke tanah jawa untuk menyiarkan agama islam, di jaman penjajahan dahulu sangat terkenal kewalian nya, bahkan dirinya setiap hari berpenampilan seperti pengemis.
Syeh Abubakar “Bah Wates” atau Sarmidin sanduk mempunyai seorang istri yang bernama Sarmiti dan di karuniai dua orang anak.
Dua Orang anak nya yaitu, Biara Ketangi dan Temmi Susnah, kewalian itu di ketaui saat Bah Wates mau menaiki kereta api pada jaman pen jajahan jepang. Karena berpenampilan seperti pengemis maka dirinya tidak boleh naik kereta.
Sontak Bah Wates tersenyum dingin, sehingga roda kereta api tersebut di beri mina yang di kunyah nya.
Setelah selesai memberikan minah yang iya kunyah lalu pergi menghilang, masinis kereta itu langsung menhidupkan mesin untuk keberangkatan, namun kereta tersebut tidak bisa berjalan.
Semua penumpang dan masinis kereta lori itu kebingungan, padahal kereta lori sudah hidup namun kereta lori tersebut tidak bisa berjalan.
Semua pada kebingungan, setelah ada yang tau jika ada “Bah Wates” di usir oleh petugas lori karena di sangka pengemis, padahal dirinya wali allah.
Setelah tau jika orang yang di usirnya adalah wali,, semua penumpang dan masinis mencari “Bah Wates” untuk meminta maaf serta meminta tolong untuk menghidupkan lagi kereta lori tersebut.
Masinis dan penumpang sudah mengetaui keberadaan Bah Wates yang berada di sebuah sumur tua di Desa Jatiroto Lor sedang menimbah air.
Ahirnya Bah Wates menerima permintaan maaf tersebut, dan langsung mencabut minaan yang iya tancapkan ke roda kereta lori, sehingga pejalanan kereta itu bisa berjalan kembali.
Kewalian Bah Wates itu juga terlihat pada saat dirinya sedang duduk di depan pasar dengan berpenampilam seperti pengemis, namun pemilik warung di pasar mengusir Bah Wates karena takut dagangan nya tidak laku.
Bah Wates tesenyum dan menancapkan lidi ke tanah, sambil bejalan meninggalkan warung tersebut. Selang beberapa menit lidi yang menancap ketanah mengeluarkan air.
Sehingga terjadi bajir di daerah itu, warga yang mengetauhi jika pemilik warung itu penyebab “Bah Wates” Marah sehingga pemilik marung itu meminta maaf kepada Bah Wates.
Barulah Syekh Abu bakar “Bah Wates” menerima permintaan maaf pemilik warung, sehingga Bah Wates mau mencabut lidi yang iya tancapkan, barulah banjir itu berlahan surut.
Dirinya juga menyampaikan bahwa manusia tidak boleh menilai dari penampilan nya, dan jangan pernah merendahkan seseorang itu dari pakayan nya, baik kedudukan maupun derajad nya.
Syekh Abubakar “Bah Wates” atau Sarmidin Sanduk terkenal ketakwaan nya kepada Allah, karena tujuan dirinya ketanah Jawa Adalah meyiarkan agama islam.
Bah Wates mempunyai tiga teman harimau yang selalu setia mendampingi kemanapun Syehk Abubakar pergi, bahkan bisa di bilang teman bernyanyi
Ketiga harimau itu bernama Kacong, Lanceng dan Kasor, mereka selalu di ajak benyanyi dan berzikir oleh “Bah Wates” namun harimau itu sampai saat ini masih ada.
Warga sekitar sering melihat penampakan harimau besar berwarna hitam milik “Bah Wates” sedang berjalan di area pemakaman sang wali itu, namun penampakan harumau besar itu bisanya pada malam jum’at legi.
Bahkan waktu berdirinya Pabrik gula terbesar di Jatiroto pada era Belanda sering memakan korban dan sering mengalami kerusakan yang tidak masuk akal, sehingga para dukun dan orang pintar di datangkan oleh belanda.
Setelah para dukun dan paranormal datang mereka tidak sanggup bahkan menyerah, karena penunggu nya adalah raja jin yang menyerupai ular bertanduk hitam sebesar.
Perusahaan Pengilingan Tebu terbesar yang terkenal angker di era penjajahan kolonial belanda itupun mendengar, bahwa ada seorang wali yang tidak di ketahui di area Jatiroto.
Barulah pihak perusaan pengilingan tebu mendatangi Syekh Abubakar “Bah Wates” atau Sarmidin Sanduk. Setelah bertemu Bah wates pihak perusahaan menjelaskan semua kejadian anek di pabrik itu.
Barulah Syekh Abu Bakar “Bah Wates” mencoba melihat dari mata batinya setelah melakukan doa-doa, barulah dirinya tersenyum sambil bicara jika pabrik itu di huni raja jin yang menyerupai ular bertanduk hitam besar yang melingkari pabrik tebu tersebut.
Syekh Abu Bakar “Bah Wates” atau Sarmidin Sanduk mau membatu pihak perusahaan penggilangan tebu yang didirikan oleh kolonial belanda itu, setelah sampai di area pabrik gula dirinya melihat ular besar bertanduk hitam.
Bah Wates Tesenyum kepada raja jin yang menyerupai Ular besar yang bertanduk itu, sambil mengucakkan doa, ular itu pun geram sambil kepanasan sehingga meminta ampun untuk tidak mengganggu lagi.
Tanpa perlawanan, Raja jin ular itu takluk di tangan “Bah Wates” karena ilmu nya sangat tingnggi dan di temani tiga harimau besar di sampingnya.
Raja jin Ular bertanduk hitam besar juga memohon kepada “Bah Wates” agar tidak di bunuh, dengan sarat tidak lagi mengganggu pekerja yang ada di pabrik gula tersebut.
Namun raja jin ular itu juga minta agar tetap menjadi penunggu pabrik gula. Permintaan itu pun di kabulkan oleh “Bah Wates” asal bisa melindungi seluruh gangguan gaib yang menyerang ke area perusahaan.
Sampai saat ini makam Syekh Abu Bakar “Bah Wates” atau Sarmidin Sanduk masi sakral dan banyak di kunjungi masyarakat, bahkan ketika mau masuk musim pengilingan pabrik gula jatiroto pihak perusahaan mendatangi makam wali itu untuk memanjatkan doa.
SUMBER : Keluarga Besar Syekh Abu Bakar “Bah Wates” Atau Sarmidin Sanduk












