BERITA

Mainkan Politik Kocar-kacir, Achmad Fauzi Bukan Anak Baru Kemarin

×

Mainkan Politik Kocar-kacir, Achmad Fauzi Bukan Anak Baru Kemarin

Sebarkan artikel ini

SUMENEP – Seleksi Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sumenep tahun 2026 berubah menjadi papan catur politik penuh teka-teki. Di balik proses yang mestinya teknokratis dan steril dari manuver kekuasaan, publik justru disuguhi rangkaian kejutan yang memantik kecurigaan nama-nama yang digadang-gadang rontok, sementara figur tak terduga justru melenggang.

Di pusat pusaran ini berdiri Achmad Fauzi Wongsojudo. Sang bupati kembali menunjukkan gaya khasnya—sunyi di permukaan, namun tajam bermanuver di balik layar. Banyak kalangan menilai, seleksi Sekda kali ini bukan sekadar adu kapasitas, melainkan adu strategi.

Politik Banteng Moncong Putih yang identik dengan kejutan dan disiplin garis komando kembali disebut-sebut mewarnai arah angin. Di Sumenep, politik jenis ini dikenal tak pernah mudah ditebak, apalagi dengan rekam jejak kepemimpinan Fauzi yang kerap membalik ekspektasi.

Puncak kontroversi mencuat ketika di tengah berlangsungnya seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama Sekda Kabupaten Sumenep 2026, struktur panitia seleksi (pansel) justru dirombak. Langkah ini sontak menyulut tanda tanya besar ada apa di balik perubahan mendadak.

Polemik transparansi pansel telah berlarut, hingga muncul fakta krusial Drs. Raden Achmad Syahwan Effendy mengundurkan diri dari jabatan Ketua Pansel. Mundurnya figur kunci di tengah proses berjalan kian menguatkan spekulasi publik, apakah ini sekadar dinamika administratif, atau indikasi retaknya kepercayaan internal?

Di satu sisi, Pemkab berdalih perubahan dilakukan demi memperbaiki tata kelola dan meredam kegaduhan. Namun di sisi lain, publik bertanya lebih lantang: mengapa perubahan terjadi saat pertandingan sudah dimulai? Apakah ini bentuk koreksi, atau justru pengaturan ulang papan catur?
Yang jelas, seleksi Sekda Sumenep 2026 kini tak lagi sekadar urusan birokrasi.

Ia telah menjelma drama politik yang menguji komitmen transparansi, independensi, dan keberanian membuka proses ke mata publik. Satu langkah keliru, dan kepercayaan bisa runtuh. Satu langkah tepat, dan sejarah baru tercipta di Kabupaten Sumenep.

Penulis:Tim/Maz Day.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *