BERITA

Kisah Doa Ibu dan Air Mata, Halim Hidup di Keluarga Miskin Hingga Sukses Bergelar Sarjana

×

Kisah Doa Ibu dan Air Mata, Halim Hidup di Keluarga Miskin Hingga Sukses Bergelar Sarjana

Sebarkan artikel ini

Sumenep – Di sebuah desa kecil di Kecamatan Gapura, Kabupaten, Sumenep, Madura, Jawa Timur hidup seorang pemuda bernama Abd Halim sosok yang sejak kecil sudah terbiasa berdialog dengan kesedihan. Hidup baginya bukan tentang memilih jalan, melainkan bertahan di tengah keterbatasan yang terus menghimpit.

Sejak ayahnya pergi meninggalkan kehidupan dunia, Abd Halim tumbuh hanya dengan satu figur terkuat di sisinya. seorang ibu buruh tani yang tubuhnya mulai rapuh, tetapi hatinya tetap kokoh seperti karang.

Setiap pagi, perempuan itu berangkat ke sawah dengan langkah yang tertatih; bukan karena lelah, tetapi karena memikirkan masa depan anak satu-satunya.

Tidak ada rumah megah. Tidak ada gaji tetap. Yang mereka punya hanya keteguhan… dan harapan yang terus dipaksa hidup.

Di tengah segala kekurangan, Abd Halim kecil selalu melihat ibunya pulang membawa sekantong kecil beras atau sayur seikhlas upah. Namun kadang, ia juga menyaksikan sang ibu duduk diam di sudut dapur, menutup wajah dengan kain lusuh, menangis tanpa suara.

Tangis yang tidak pernah ia pahami saat itu, tetapi kini menjadi luka yang paling ia ingat. kesedihan seorang ibu yang takut mimpinya untuk anaknya gagal di tengah jalan.

Justru dari air mata itulah Abd Halim tumbuh menjadi pemuda yang tidak mau menyerah. Ia melangkah menjadi Aktivis Kota Keris, menyuarakan suara-suara yang nyaris tidak pernah didengar. anak muda miskin, masyarakat desa, dan mereka yang hidup dalam lingkaran ketidakadilan.

Namun perjuangannya yang tampak gagah di luar, menyimpan rapuh di dalam. kerinduan pada ayah yang tidak pernah menyaksikannya tumbuh.

Puncak perjalanannya hadir saat hari wisuda tiba. Ketika nama “Abd Halim” dipanggil, ia berdiri dengan langkah pelan. Ruangan penuh tepuk tangan, tetapi jantungnya justru bergetar lebih keras oleh kesedihan.

Di kursi tamu, ia melihat sosok yang membuatnya ingin menangis: ibunya, duduk dengan kebaya sederhana, mencoba menyembunyikan getaran bibirnya. Tidak ada ayah yang dulu ia impikan hadir di momen ini. Yang ada hanyalah tempat kosong di hatinya yang tak pernah terisi.

Saat tali toga dipindahkan ke sisi kiri, Abd Halim menahan air mata yang ingin jatuh.

“Wisuda ini… untuk ayah dan ibu,” ucapnya pelan. “Ayah mungkin tak hadir, tapi doa beliau selalu ada. Dan Ibu… terima kasih karena tidak pernah berhenti percaya.” ucap Halim sabil meneteskan air mata.

Bagi sebagian orang, wisuda hanyalah perayaan akademik. Namun bagi Abd Halim, itu adalah bukti bahwa air mata, kehilangan, dan kemiskinan tidak mampu mematahkan seorang manusia yang terus berjalan meski langkahnya sering goyah.

Kisahnya menjadi pengingat bahwa hidup boleh menindas, tetapi tekad bisa melawan. Bahwa seorang anak buruh tani dapat berdiri gagah di panggung sarjana. Bahwa mimpi layak diperjuangkan, meski harus diiringi tangis yang berkepanjangan.

Penulis: Tim/wh/day

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *