BERITA

Dihari Santri, Ketua DPRD Sumenep Mendorong Peran Santri Dalam Membangun Daerah.

×

Dihari Santri, Ketua DPRD Sumenep Mendorong Peran Santri Dalam Membangun Daerah.

Sebarkan artikel ini

Sumenep – Ketua DPRD Kabupaten Sumenep, Zainal Arifin, mendorong penguatan peran santri dalam pembangunan daerah. Menurut dia, peringatan Hari Santri Nasional tidak cukup dirayakan melalui kegiatan seremonial, tetapi perlu menjadi momentum untuk memperluas kesempatan santri berkontribusi di berbagai sektor.

Zainal mengatakan, santri memiliki potensi untuk mengambil peran dalam bidang pendidikan, ekonomi, teknologi, kewirausahaan, hingga pemerintahan. Potensi tersebut perlu didukung dengan akses, kesempatan, dan kolaborasi lintas sektor agar dapat berkembang.

“Jangan sampai Hari Santri hanya dimaknai dengan seragam dan seremoni. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana semangat santri itu hadir dalam kehidupan sehari-hari dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” kata Zainal.

Ia menilai, pesantren memiliki modal sosial penting bagi Kabupaten Sumenep. Selain membekali santri dengan ilmu agama, lingkungan pesantren juga menanamkan nilai kedisiplinan, kemandirian, kesederhanaan, gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama.

“Santri hari ini harus berani masuk ke semua ruang. Bisa menjadi pengusaha, akademisi, teknokrat, profesional, birokrat, politisi maupun pelaku ekonomi kreatif. Nilai-nilai pesantren justru harus menjadi fondasi ketika mereka masuk ke ruang-ruang tersebut,” ujarnya.

Untuk memperluas peran tersebut, Zainal mendorong kolaborasi antara pemerintah daerah, pesantren, lembaga pendidikan, dunia usaha, dan komunitas santri. Kerja sama itu diharapkan membuka ruang bagi generasi santri untuk mengembangkan kompetensi sekaligus terlibat dalam menjawab persoalan masyarakat.

Menurut dia, santri tidak semestinya hanya menjadi sasaran pembinaan, tetapi juga perlu mendapat kesempatan untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan.

“Pesantren memiliki sumber daya manusia yang besar. Tinggal bagaimana potensi itu diberikan ruang dan kesempatan untuk berkembang. Santri harus menjadi bagian dari jawaban atas berbagai persoalan daerah, bukan hanya menjadi penonton pembangunan,” kata Zainal.

Ia juga mengingatkan pentingnya penguasaan teknologi tanpa meninggalkan nilai agama dan tradisi pesantren. Bekal karakter, ilmu pengetahuan, dan kemampuan beradaptasi dinilai menjadi modal bagi santri untuk menghadapi perubahan.

“Pesantren punya akar yang kuat. Tetapi akar yang kuat jangan membuat kita takut tumbuh ke atas. Santri harus tetap memegang nilai agama dan tradisi, namun pada saat yang sama berani menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujarnya.

Penulis: Tim/Hk/Day.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *